Kali ini gue bakal nulis dengan menggunakan Bahasa. Kenapa? Karena belakangan ini gue merasa bahasa Inggris menjadi suatu kebiasaan yang sulit dihindari dalam percakapan gue sehari-hari. Di Kampus, di Rumah dan sesama teman-teman yang berkewarga negaraan asing. Oke ga penting ngomongin bahasa.
Kali ini tema yang kepingin banget gue tulis adalah tumbuh dewasa. Banyak orang yang mungkin berumur dengan kepala 20, 30, 40, 50, dan seterusnya. Tapi pertanyaannya, apakah orang-orang ini mempunyai sifat yang sesuai dengan usia mereka? Atau jangan-jangan mereka justru mempunyai pandangan yang lebih pendek terhadap sesuatu dibandingkan dengan umur mereka?
Percaya ga percaya, ada suatu cerita yang bakal gue tulis yang memang aneh tapi mau gimana lagi ya emang nyata.
Awal mulai cerita, sebut aja si Ibu L yang berumur hampir 50. Beliau orangnya berpandangan luas, ia memegang teguh hak asasi manusia dan prinsip kebebasan dalam berpendapat. Ia sosok yang banyak orang anggap sangatlah penting dalam kelangsungan pekerjaan mereka. Beliau dikenal sangat antusias dan keras dalam bekerja.
Lain di tempat kerja, lain juga di rumah. Kehidupan beliau sempat kelam karena rumah tangganya harus berakhir dengan seorang anak yang harus ia rawat. Ia memilih untuk terus hidup dan pindah kembali ke tempat di mana ia dulu dibesarkan.
Di rumah itu tidak tinggal ia seorang, tetapi adik dengan istrinya dan juga ibunya. Pada kenyataannya sang Ibu sangatlah sopan, ia sangat menjaga keteraturan dalam kebiasaan sehari-hari. Setelah beberapa tahun tinggal kembali di rumah itu, tidak banyak yang berubah hanya segelintir masalah kecil namun, lambat laun, tumbuhan yang kita pelihara pastilah akan tumbuh dan merambat. Masalah pun muncul.
Istri dari adik ibu L mulai menentang semua ketidakbiasaan yang terjadi di rumah itu. Sewaktu ketika sang Istri menegur pembantu baru yang bekerja di rumah itu karena beras dan indomie yang persediaan telah habis. Padahal baru beberapa hari yang lalu ia beli. Kemudian si Istri berujar, "Bilangin sama ibu L, jangan makan beras punya orang lain. Beli sendiri masa ga bisa?"
Si pembantu yang polos dan ceplas ceplos akhirnya memberi tahu ibu L tentang apa yang terjadi. Si Ibu L lantas marah, ia merasa terhina karena disangka telah memakan beras tersebut. Ia kemudian tidak menegur sapa dengan sang Istri meskipun mereka berada di bawah satu atap.
Ia memilih makan di kamar seperti biasa, menghabiskan waktu di kamar seharian dan keluar jika ia hanya perlu sesuatu. Kemudian cerita bahwa ia telah dituduh memakan beras atau persediaan sang Istri pun dibeberkannya keluar. Ia meminta agar sang Istri sebaiknya dikirimi persediaan makanan tersebut dalam kardus dan diantar sampai ke depan kamarnya. Dia merasa sang Istri sangat pelit dan mengatakan bahwa ia akan mengganti semua persediaan itu.
Seiring waktu pun cerita berlanjut makin rumit. Hal inilah yang mendasari pembicaraan orang-orang mengenai ibu L. Ibu yang ada di rumah itu juga merasa kesal karena billing telepon harganya meningkat drastis dikarenakan anak dari ibu L yang menggunakan telepon. Ia juga mengaku sering telfon-telfonan sampai berjam-jam dengan kawannya. Kemudian Ibu menegur anak ibu L.
Anak ibu L menceritakan semua ke ibunya, kalau ia ditegur. Ibu L pun semakin merasa terhina. Karena merasa bahwa, bukan anaknya yang menggunakan telpon. Bukannya menyelesaikan masalah tetapi si Ibu L malah memasang aksi "ngambek" ia memilih pergi seharian keluar dan menjauhi orang-orang rumah bersama anaknya. Hingga kini masalah pun tidak pernah selesai. Keadaan semakin runyam ketika Ibu di rumah itu ingin menjual rumah tersebut. Ibu L merasa semakin terusir.
Dari sinilah kita belajar bahwa bukan berarti seseorang yang terlihat kokoh dan sigap di depan mata bisa selalu menindaktegaskan suatu keadaan dengan sama. Andai saja, si Ibu L menghargai si Ibu dan keluarganya di rumah, mungkin keadaan akan berbeda. Andai saja ia mau membicarakan masalah keperluan rumah dan persediaan makanan dan turut membantu biaya sehari-hari karena ia pun juga menggunakan fasilitas tersebut, mungkin ia tidak perlu punya musuh.
Aneh memang, ia memilik seorang anak. Tidakkah seharusnya ia memberi contoh yang baik pada anaknya? Kalau si Anak mencontoh tindakkan ibunya tidakkah nanti dia malu? Bagaimana dengan pendapat orang yang bisa beranggapan kalau si Ibu L mungkin berumur sama dengan anaknya?
PS: Cerita ini buat nambah-nambah referensi kehidupan aja. ;)
No comments:
Post a Comment